Melestarikan Tarian Caci untuk Mempertahankan Budaya Manggarai

- Selasa, 23 Agustus 2022 | 11:58 WIB
Anggota Sangar Budaya Nipu Ceki di Desa Liang Ndara saat mengelar antraksi tarian Caci. (victorynews.id/SATRIA)
Anggota Sangar Budaya Nipu Ceki di Desa Liang Ndara saat mengelar antraksi tarian Caci. (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT-Masyarakat di Desa Wisata Liang Ndara di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barar hingga saat ini melestarikan tarian cari untuk mempertahakan budaya manggarai.Prosesi tarian caci dilakukan oleh masyarakat Desa Liang Ndara sebagai atraksi untuk menjamu wisatawan yang datang berkunjung di wilayah itu.

Tokoh Adat Kampung Melo,Desa Liang Ndara,Yosep Bugis, Selasa (23/8/2022) menuturkan, tarian caci terancam hilang lantaran daerah Manggarai Barat  semakin maju dan berkembang.Selain itu karena telekomunikasi dan teknologi semakin maju pesat,hampir 100 persen anak muda di desa sudah tidak mengenal lagi tarian caci dan tarian adat  manggarai lainnya.

Ia menuturkan, awalnya dirinya melihat budaya  manggarai di Manggarai Barat seperti tarian caci semakin pudar ditengah masyarakat.Dirinya mencoba menghidupkan kembali budaya itu dengan membentuk sangar budaya "Compang Toe".

Dengan adanya sanggar budaya Compang Toe,mau melatih anak-anak mengenal budaya manggarai itu sendiri.

Tarian caci memiliki makna yang sangat mendalam dalam budaya kehidupan masyarakat di wilayah Manggarai.Tari Caci merupakan tari uji ketangkasan bela diri yang dibalut dalam bentuk tarian dan menjadi nilai budaya.

Baca Juga: Desa Wisata Liang Ndara Didorong Jadi Penyangga Destinasi Super Prioritas Labuan Bajo

Dalam budaya Manggarai, tarian Caci membawa simbol pertobatan manusia dalam hidup.Nama Caci berasal dari dua kata yakni "ca" yang artinya satu dan "ci" yang berati uji. Sehingga Caci bermakna ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah,"jelas Yosep Dugis.

Masyarakat di Desa Liang Ndara kata Yosep Dugis, mengelar atraksi tari Caci sejak 1974.Dimana dirinya mengumpulkan sejumlah orang untuk membentuk sanggar Budaya dengan Nama "Compang Toe".

Anggota sanggar budaya setiap hari mempertunjukkan tarian caci sebagai atraksi wisata dihadapan wisatawan yang mengunjungi Desa Wisata Liang Ndara.

"Saya tidak mau tarian caci itu hilang.Saya menginginkan agar anak muda itu mengenal dengan baik tarian caci.Dengan membentuk sanggar budaya Compang Toe ,saya mau mengajarkan anak-anak paham dengan budaya manggarai itu sendiri,"ujarnya.

Yosep Bugis mengisahkan, tarian caci lebih dikenal oleh masyarakat di Kabupaten Manggarai. Sedangkan Masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat belum mengenal dengan baik makna tarian caci itu sendiri.Padahal tarian caci merupakan tarian khas masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai dan Kabupaten Manggarai Barat.

Pertunjukan tari caci harus dibuka dengan tarian Danding atau Tandak Manggarai. Sebelum beradu, setiap pemain tarian caci terlebih dahulu melakukan gerakan pemanasan otot.Dengan ikat kepala dan sarung songket,para pemuda pemain caci baris berjejer dan menari dengan lagu daerah yang dinyanyikan dengan lantang.

Baca Juga: Desa Didorong Kembangkan Pariwisata

"Saat ini anak-anak muda di Kampung Melo sudah mampu bermain caci dengan baik dan benar.Saya merasa senang,antusian pemuda di Kampung Melo untuk antraksi tarian caci setiap tahunya meninggat,"tutur Yosep Bugis.

Ia mengaku, dibentuknya sanggar budaya Compang Toe hanya untuk mendidik anak-anak muda di Desa Liang Ndara mengenal budaya manggarai itu sendiri. Dirinya bangga tarian caci dan tarian adat  manggarai lainnya sudah dapat di pentas oleh pemuda-pemudi di Desa Liang Ndara.

Yosep Dugis menjelaskan, tarian caci umumnya dilaksanakan pada bulan Juli sampai Oktober setiap tahunya.Tarian Caci dilaksanakan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat suku Manggarai kepada yang maha kuasa atas hasil panen yang melimpah.

Tarian Caci diikuti dengan alunan musik dari luar arena. Alat musik yang digunakan yaitu gendang dan gong dengan lantunan lagu Neggong atau Dare yang merupakan lagu khas daerah Manggarai.

"Saya menginginkan agar tarian caci di Desa Liang Ndara dilestarikan sebagai tarian khas masyarakat di Desa Liang Ndara,"harap Yosep Dugis.

Pemilik Sangar Budaya Nipu Ceki di Desa Liang Ndara, Primus Hata menjelaskan tarian caci adalah salah satu kesenian tradisional yang sakral dengan konsep tarian perang.Tarian caci terinspirasi dari adu kekuatan para pemuda antar-wilayah yang turun temurun dilakukan, kemudian menjadi salah satu bagian kultur dan seni budaya yang sakral di wilayah Manggarai Raya.

Sebagai salah satu budaya khas Manggarai, tarian caci dilakukan hanya pada acara-acara khusus. Semisal, saat musim panen),ritual tahun baru, upacara pernikahan adat dan upacara adat lainnya.Kemudian saat ini, Tari Caci berkembang menjadi suguhan spesial bagi para tamu undangan pemerintahan, maupun kunjungan wisatawan  ke desa-desa wisata di Manggarai Barat.

Baca Juga: Desa Wisata di Manggarai Barat Didorong Jadi Destinasi Pariwisata Berkualitas

"Tarian caci merupakan cara bagi para laki-laki di wilayah Manggarai untuk membuktikan kejantanan mereka.Tarian Caci  merupakan gambaran kehidupan yang bersinergi antara alam dan manusia. Tarian caci juga merupakan gambaran proses kedewasaan kaum lelaki di Manggarai,"jelas Primus Hata.

Primus Hata mengaku, sejumlah masyarakat yang tergabung dalam anggota sanggar budaya Nipu Ceki selalu aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan salah satunya saat menjemput tamu pemerintah pusat di Labuan Bajo dengan membawakan Tari Caci dan Sanda sebagai bentuk promosi dan pelestarian adat asli Manggarai.Selain mempertunjukan tarian caci dihadapan wisatawan yang mengunjungi Desa Wisata Liang Ndara.

Kekayaan Desa Liang Ndara dalam adat istiadat terlihat dari aktifnya masyarakat adat menampilkan tarian caci dan musik asli Adat Manggarai dalam setiap atraksi wisata

"Kita mencoba memperkenalkan dan melestarikan adat Manggarai khususnya Tarian Caci ke masyarakat luas.Wisatawan yang mengunjungi desa wisata Liang Ndar dipastikan mengenal budaya dan adat manggarai", ujar Primus Hata.

Baca Juga: Spesifikasi Kulkas Polytron 1 Pintu PRB159

Menurutnya, dengan keikutsertaan masyarakat dalam kelompok sangar budaya Nipu Ceki dan mempertunjukan tarian khas manggarai di setiap kunjungan wisatawan menjadi salah satu usaha untuk melestarikan, menjaga, dan memperkenalkan adat budaya asli Manggarai agar tidak hilang.

Keikutsertaan seluruh anggota sangar budaya Nipu Ceki setiap atraksi tarian caci dan acara festival budaya setiap tahun merupakan salah satu bentuk kepedulian masyarakat Desa Liang Ndara terhadap pelestarian adat dan pengetahuan masyarakat akan adat asli Manggarai,"ungkap Primus Hata.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Kapal Wisata Diminta Harus Berasuransi

Minggu, 2 Oktober 2022 | 09:55 WIB

Masyarakat di Desa Wisata Harus Ditata

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 15:04 WIB

Desa Wisata Butuh Sentuhan Teknologi Informasi

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 13:45 WIB

Butuh Anggaran Besar Tata Pariwisata Manggarai Barat

Jumat, 30 September 2022 | 16:19 WIB

Liang Ndara Jadi Model Desa Wisata

Rabu, 28 September 2022 | 13:10 WIB

Desa Wisata Liang Ndara Maksimal Garap Potensi Wisata

Selasa, 27 September 2022 | 16:45 WIB

Sektor Pariwisata Jadi Andalan Kecamatan Kuwus

Kamis, 22 September 2022 | 11:37 WIB

Ruas Jalan Menuju Obyek Wisata Buruk

Jumat, 16 September 2022 | 11:47 WIB

Keberadaan Perjalanan Wisata Ilegal Rusak Pasar Wisata

Jumat, 16 September 2022 | 09:35 WIB

Batu Strowbery, Destinasi Wisata Favorit

Kamis, 15 September 2022 | 20:48 WIB

Wisman Mulai Ramai Kunjungi Labuan Bajo

Rabu, 14 September 2022 | 15:17 WIB
X