Peristiwa Mobil Crane Tabrak Rumah Warga, Korban Terus Perjuangkan Keadilan

- Kamis, 1 Desember 2022 | 19:45 WIB
Mobil crane menabrak rumah warga di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. (victorynews.id/SATRIA)
Mobil crane menabrak rumah warga di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat. (victorynews.id/SATRIA)
VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT-Pasca peristiwa mobil crane menabrak rumah warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT pada September 2022 lalu hingga kini belum menemukan titik terang. Korban terus memperjuangkan ganti kerugian kepada perusahaan pemilik Mobil crane. 
 
Aleksius Harum yang menjadi menjadi korban dari peristiwa ini, Kamis (1/12/2022) mengatakan, dirinya hingga kini masih terus menuntut ganti kerugian dari perusahaan pemilik alat berat tersebut. 
 
Pada 30 November lalu pihak perusahaan dan pihak korban bertemu di Polres Manggarai Barat guna dilakukan mediasi. Pihak perusahaan menawarkan Rp 300 juta untuk menganti kerugian 1 unit mobil rush dan 2 unit sepeda motor. Nilai kerugian tersebut diluar biaya perbaikan rumah yang rusak. 
 
Tawaran perusahaan ditolak oleh korban. Korban menuding pihak perusahaan tidak memiliki rasa kemanusiaan dengan tidak mempertimbangkan nilai kerugian yang dialaminya dari peristiwa tersebut. Dirinya bersama keluarga sangat trauma untuk kembali mendiami rumah tersebut.
 
 
Ia menjelaskan, struktur bangunan sudah rusak akibat benturan keras dari Mobil crane. Karena itu, dirinya minta perusahaan untuk menganti kerugian sebesar Rp 800 juta. Nilai kerugian tersebut untuk bangunan dan diluar nilai untuk pergantian 1 unit mobil dan 3 unit sepeda motor yang rusak berat.
 
"Saya mau bangun rumah baru dari uang ganti rugi itu. Setelah peristiwa tabrakan itu terjadi, tiang-tiang bangunan rumah goyang dan retak. Saya trauma untuk kembali ke rumah itu. Saya ingin membangun rumah baru di tempat yang berbeda" jelas Aleksius. 
 
Sementara itu, Kasat Lantas Polres Manggarai Barat, IPTU Royke Weridity mengkonfirmasi para pihak dalam peristiwa mobil crane warga atas Nama Aleksius Harum belum menemukan titik terang. 
 
"Tidak ada kesepakatan dari dua belah pihak jadi proses lanjut" jelas Royke.
 
 
Proses lanjut yang maksud IPTU Royke adalah proses hukum terhadap pihak yang terlibat atas peristiwa itu. Namun dirinya tidak menjelaskan pihak mana saja yang akan  di proses hukum dan gelar perkara belum dilakukan.  
 
"Tunggu saya balik baru gelar (gelar perkara-red) kami e" jelas Royke melalui WhatsApp. Saat dikonformasi Iptu Royke sedang berada di Kupang. 
 
Ditempat terpisah, Florianus Surion dari Komunitas Lahir Besar di Labuan Bajo (LABELBA) menyayangkan tidak ada itikad baik dari perusahaan dan lambatnya pihak kepolisian memberikan rasa keadilan bagi korban. 
 
"Korban adalah orang tua kami di Labuan Bajo, tokoh pendidik yang sangat kami hormati. Apa yang menimpa korban tentu sangat kami sayangkan" ujarnya.
 
 
Ia menegaskan, pihak Polres Manggarai Barat perlu mencari tahu apakah peristiwa mobil crane menabrak rumah Aleksius itu murni karena kelalaian atau memang sengaja menabrak. 
 
Menurut Florianus, jika peristiwa itu terjadi akibat kondisi Mobil crane yang tidak layak jalan maka pilihan menbrak rumah Aleksius sengaja dilakukan untuk menghindari tabrakan di jalan jalan raya. 
 
Ia meminta, Polisi tidak hanya menerapkan undang-undang lalu lintas dalam proses penyelidikan kasus ini, tapi juga menerapkan Pasal 406 KUHP terkait perusakan barang milik orang lain Jo pasal 55 terkait keterlibatan perusahaan dalam peristiwa penghancuran rumah milik Aleksius Harum tersebut. 
 
"Hancurya rumah, mobil dan motor milik Aleksius tidak terjadi di jalan raya. Mobil crane itu datang menabrak rumah dan menghancurkan mobil dan motor yang sedang berada di garasi rumah. Ini bukan persoalan lalu lintas semata namun berkaitan dengan pidana penghancuran harta benda milik orang lain" tegas Florianus. 
 
 
Florianus juga meminta, Polres Manggarai Barat untuk mewujudkan rasa keadilan terhadap korban dengan tidak hanya mengunakan pendekatan norma hukum tapi juga mempertimbangkan aspek lain seperti kondisi psikologis korban.
 
"Saat saya bertemu Bapa Alek (Korban), dan istri, keduanya masih sangat trauma. Keduanya tidak ingin kemabli mendiami rumah itu. Bapa Àleks bersama istri masih tinggal menumpang di rumah anaknya. Polisi tentu harus secepatnya memproses persoalan ini" pinta Florianus. 
 
Sebelumnya, pada 23 September 2022 lalu, mobil crane melintas di jalan Van Bekkum Labuan Bajo. Mobil crane tersebut dikawal Sat Lantas Polres Manggarai Barat, namun saat melintasi turunan lampu merah Perundi Mobil crane tersebut kehilangan kendali kemudian menabrak rumah warga. 
 
Selain rumah peristiwa ini juga menghancurkan tiga unit sepeda motor dan satu unit mobil yang sedang berada di garasi rumah.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Kapolres Manggarai Barat dan Anak Buahnya Berdamai

Sabtu, 28 Januari 2023 | 16:32 WIB

Anggota PPS Harus Netral dan Objektif

Rabu, 25 Januari 2023 | 14:03 WIB

507 PPS Dilantik, Diminta Langsung Tancap Gas

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB

Kapal Wisata Tenggelam di Labuan Bajo

Sabtu, 21 Januari 2023 | 18:46 WIB

Masyarakat Diminta Siaga Potensi Bencana

Sabtu, 21 Januari 2023 | 12:18 WIB
X