Warga Pantar Resah Tambang di Sungai

- Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:18 WIB
AMP milik PT.Wijaya Graha Prima di Desa Pantar Kecamatan Komodo (victorynews.id/SATRIA)
AMP milik PT.Wijaya Graha Prima di Desa Pantar Kecamatan Komodo (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT-Warga Desa Pantar, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai  Barat mengaku, resah dengan aktivitas penambangan galian C atau Batu kali dan pasir PT. Wijaya Graha Prima di Wae Dongkong. Penambangan pasir dan batu tersebut  disinyalir tidak mengantongi izin resmi dari pemerintah.

Warga Desa Pantar, Arnoldus Jenaru, Selasa (4/10/2022) meminta, Pemerintah Kabupaten (PemkabManggarai Barat dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT  turun langsung mengecek ke lokasi tambang di Desa Pantar.Aktifitas penambangan tersebut  dengan mengambil batu dan pasir yang berada di sungai, dimana sungai tersebut biasanya digunakan oleh masyarakat untuk mengairi sawah dan untuk kebutuhan rumah tangga.

Jika diterus dibiarkan maka akan mengancam warga dikarenakan air akan kotor dan keruh.

Baca Juga: Polisi Tangkap 8 Terduga Pelaku Penganiayaan di Water Front Labuan Bajo

Ia mengatakan, tambang galian C milik  PT. Wijaya Graha Prima beroperasi sejak Mei 2018 lalu. Setiap hari di Sungai Wae Dongkong aktifitas penambangan dilakukan dari pagi hingga sore hari. Warna air berubah menjadi keruh dan tidak bening karena aktifitas pengalian batu dan pasir pada sungai Wae Dongkong.

Sehingga masyarakat Desa Pantar tidak lagi mampu mengunakan air kali Wae Dongkong untuk kebutuhan rumah tangga.

Warga Desa Pantar lainnya, Yanto mengaku pasca mulainya aktifitas penambangan di kali Wae Dongkong  PT. Wijaya Graha Prima belum pernah melakukan sosialisasi mengenai aktivitasnya. Padahal, penambangan yang dilakukan merusak bantaran Sungai Wae Dongkong, Desa Pantar, Kecamatan Komodo.

Kondisi bantaran Kali Wae Dongkong ini wajahnya semakin buruk akibat alat keruk jenis eksavator. Belum lagi dilalui kendaraan berat milik perusahan tambang tersebut," jelasnya.

Baca Juga: Upaya Cegah Stunting, Beri Perhatian Khusus Ibu Hamil

Selain mengekploitasi batuan Sungai Wae Dongkong, PT. Wijaya Graha Prima juga mengoprasikan Pabrik Asphalt Mixing Plant (AMP) di sekitar sungai tersebut. Keruhnya air Sungai Wae Dongkong disebabkan bekas galian C yang ditimbulkan dari alat berat yang masuk ke aera sungai.

Warga desa belum mendapatkan sosialisasi terkait adanya aktifitas tambang dari pihak penambang.

"Ada juga pabrik aspal. Kami tidak tahu dampak yang akan terjadi nanti, tapi alat besar di sana tentu mengeluarkan asap yang akan mencemari udara sekitar," tutur Yanto.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Masyarakat Manggarai Barat Diminta Kawal Dana Desa

Selasa, 6 Desember 2022 | 20:05 WIB

Kolo Ted'du  Alat Masak Tradisional Dari Bambu

Selasa, 6 Desember 2022 | 19:52 WIB

Delapan Prioritas Pembangunan Manggarai Barat 2023

Selasa, 6 Desember 2022 | 19:12 WIB

Desa Wisata Butuh Koneksi Internet

Minggu, 4 Desember 2022 | 18:28 WIB

Pemkab Manggarai Timur Bersih- Bersih THL

Jumat, 2 Desember 2022 | 07:21 WIB

‎Edi Endi: Kepala Desa Baru Jangan Korupsi

Rabu, 30 November 2022 | 18:09 WIB

Ruas Jalan Labuan Bajo-Ruteng Rawan Longsor

Selasa, 29 November 2022 | 17:43 WIB

Warga Desa Nampar Macing Butuh Air Bersih

Selasa, 29 November 2022 | 17:22 WIB

692 Orang Melamar jadi PPK di Kabupaten Manggarai

Selasa, 29 November 2022 | 09:59 WIB
X