Harga Komoditi Pertanian Turun

- Sabtu, 23 April 2022 | 08:30 WIB
Tanaman Kakao di Desa Tondong Belang Kecamatan Mbeliling (victorynews.id/SATRIA)
Tanaman Kakao di Desa Tondong Belang Kecamatan Mbeliling (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT- Petani di Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, NTT mengeluh, lantaran harga komoditi  yang selama ini menjadi tumpuan hidup mereka yakni kakao, kemiri dan kopi terus merosot di pasaran.

Harga komoditi biji coklat atau Kakao di tingkat petani di Kabupaten Manggarai Barat dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami penurunan.Semula, biji kakao kering dibandrol dengan harga Rp 26.000/Kilo Gram (Kg) kini turun menjadi Rp 18.000 - 22.000/Kg.

Turunnya harga komoditi pertanian diwilayah Manggarai Barat, membuat petani tidak semangat untuk mengembangankan komoditi pertanian kedepannya.

Petani asal Desa Tiwu Riwung, Kecamatan Mbeliling,Agustinus Jeradu, Sabtu (23/4/2022) menyampaikan, wabah penyakit Virus Corona atau COVID-19 yang melanda wilayah Manggarai Barat sejak tahun 2020 menyebabkan harga kakao berangsur turun.

Para pengepul komoditi pertanian di Kecamatan Mbeliling tidak lagi membeli komoditi pertanian.Hal itu disebabkan harga komoditi turun dratis,sehingga pengepul tidak berani membeli komoditi kakao milik petani.

Baca Juga: Labuan Bajo Siap Sambut Penyelenggaraan KTT G20

Ia menuturkan, harga jual kakao tidak seperti yang diharapkan, padahal bulan Februari 2022 sempat menjual dengan harga Rp 26.000/Kg. Namun kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama karena harga kakao kembali turun.

Ia mengaku, setelah beberapa minggu memanen dan hasil panennya telah terkumpul, harga jual kakao semakin menurun hingga harga Rp 18.000 - Rp 22.000/Kg. Masyarakat di Desa Tiwu Riwung tidak mengetahui penyebab harga kakao anjlok.

Agustinus Jeradu menyampaikan, rata-rata petani di wilayah Kecamatan Mbeliling fokus pada pengembangan tanaman komoditi pertanian seperti Cokelat, kemiri dan Kopi.

Setiap tahun,rata-rata setiap Kepala Keluarga (KK) mendapat keuntungan dari hasil menjual komoditi pertanian mencapai Rp 5 Juta hingga Rp 10 Juta. Setelah COVID- 19 melanda Kabupaten Manggarai Barat pada awal Maret 2020 lalu,masyarakat tidak lagi bersemangat mengurus komoditi pertanian.

Ia menyampaikan, penurunan harga sangat merugikan para petani yang selama ini bergantung pada hasil kebun kakao. Terlebih, panen buah kakao tahun ini berkurang serta kondisi buahnya juga kurang baik akibat penyakit busuk yang menyebabkan biji kakao tidak berkembang.

Baca Juga: Gubernur NTT Dorong Mahanaim Grub Percepat Pembangunan Hotel The St.Regis Labuan Bajo

Ia berharap, harga komoditi pertanian seperti Kakao,kemiri dan kopi segera pulih kembali, mengingat usaha komoditi pertanian selama ini menjadi sumber utama mata pencaharian masyarakat di Kecamatan Mbeliling,khususnya Desa Tiwu Riwung.

Petani asal Desa Tondong Belang, Kecamatan Mbeliling, Albertus Natong mengatakan, sebagian besar masyarakat di Desa Tondong Belang bergantung kepada tanaman kakao,kemiri dan kopi sebagai mata pencahariannya.

Meskipun harga komoditi pertanian turun tetapi petani tidak dapat menahan stok menunggu sampai harga kembali membaik karena membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya pendidikan anak, juga agar bisa membeli pupuk dan obat-obatan untuk tanaman kakao.

Dia mengakui, kurang mengetahui penyebab anjloknya harga komoditi pertanian itu.Sebab sulit diprediksi naik turunnya harga komoditi pertanian seperti terjadi pada kopi arabika maupun  kakao.Sebagian besar petani sedang memasuki panen besar, namun langsung dihadapkan dengan harga murah sehingga keuntungan yang didapat petani menjadi berkurang.

Baca Juga: Manggarai Barat Jadi Wisata Bahari Internasional

Dirinya berharap harga komoditi pertanian bisa naik kembali

"Sebagian besar masyarakat memang sangat bergantung kepada hasil produksi perkebunan dan pertanian. Karena ini naik-turunnya tingkat kesejahteraan petani sangat tergantung pada harga kakao, kopi dan beras,"kata Albertus.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Kegiatan Pertanian Harus Mengangkat Kearifan Lokal

Minggu, 14 Agustus 2022 | 19:13 WIB

Produksi Sampah Menurun Dratis

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 07:07 WIB

Masyarakat Labuan Bajo Didorong Kreatif dan Inovatif

Minggu, 7 Agustus 2022 | 11:40 WIB

Kapal Padar Indah Terancam Mubazir

Minggu, 7 Agustus 2022 | 10:42 WIB

Tim Terpadu Pantau Pasar dan TPI Labuan Bajo

Minggu, 7 Agustus 2022 | 08:16 WIB

Warga Desa Nggilat Nikmati Jalan Buruk

Minggu, 7 Agustus 2022 | 07:55 WIB

Pembabatan Hutan Lindung Dikeluhkan Warga

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 21:06 WIB

Kapal Wisata Liar Beroperasi di Labuan Bajo

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 19:59 WIB

Masyarakat Diminta Dukung Pembangunan Daerah

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 17:31 WIB

Pembangunan Rumah Swadaya Hampir Rampung

Kamis, 4 Agustus 2022 | 11:49 WIB

Petani di Kecamatan Lembor Kesulitan Pupuk NPK

Kamis, 4 Agustus 2022 | 08:59 WIB

Sampah Menumpuk di Pasar Rakyat Batu Cermin

Rabu, 3 Agustus 2022 | 17:49 WIB

Petani Kesulitan Pupuk, Tunda Masa Tanam

Rabu, 3 Agustus 2022 | 16:55 WIB
X