BPOM Kampanye Gunakan Komestik

- Senin, 1 Agustus 2022 | 21:07 WIB
Logo BPOM
Logo BPOM

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Barat bersama  lembara DPRD perlu membuat Peraturan Daerah (Perda) tentang perlindungan pelestarian kebudayaan atau budaya setempat. Ditengarai banyak budaya Manggarai Barat yang sudah pudar, bahkan hilang tergerus zaman.

Budaya atau kebudayaan yang dimaksudkan di atas, di antaranya budaya Kempo, Boleng, Mata Wae, Mburak, Nggorang. Kelima wilayah eks kedaluan tersebut, budayanya satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Anggota DPRD Manggarai Barat, Blasius Janu, Minggu (17/7/2022) mengatakan, salah satu budaya yang sudah luntur dari 5 wilayah di atas yakni loce (tikar) berbahan baku re'a (pandan). Dimana ketika pulang acara adat di ine ame atau orang tua pihak saudara misalnya saat wale werong/sida dari ine ame atau mengabuli permintaan pihak saudara berupa mahar uang dan hewan, pihak woe atau saudari selalu membawah pulang tikar satu mantang.

Budaya seperti itu sudah ditinggalkan oleh berbagai suku di wilayah Kecamatan Boleng,Sano Nggoang, Komodo dan Kecamatan Mbeliling.Padahal sejak dahulu,masyarakat adat selalu mempertahannkan budaya disaat acara adat.

Baca Juga: BPBD Himbau Masyarakat Hemat Air

Ia menjelaskan, pada zaman dahulu, jika kembali dari ine ame, pihak woe membawah pulang 1 mantang tikar (satu kesatuan 2 lembar tikar berlapis). Tikar yang 1 berwarna putih polos dan yang 1 lagi berwarna merah putih atau putih hitam dan lain-lain.Tetapi sekarang hal satu ini sudah mulai pudar. Budaya tikar diganti dengan satu lembar kain tetoron.

Saat pulang dari ine ame (orang tua/anak rona) hanya membawah 1 lembar kain tetoron yang nota bene bukan prodak lokal Manggarai Barat, melainkan hasil produksi luar daerah Manggarai Barat,"jelas Belasius Janu.

Blasius Janu menyampaikan, pada belasan tahun lalu saat acara adat di ine ame, pihak woe dan ine ame serta lain-lain yang ikut acara itu, semua duduk sopan santun di atas tikar, lengkap dengan tange (bantal lokal dari re'a).

Peserta acara mengenakan kain, baju rapi. Kaum pria juga malah memakai topi.Sebelum acara adat, pihak ine ame menyuguhkan siri-pinang dan kapur sirih kepada woe. Juga dengan rokok dari tembako lokal serta pelengkap lainnya. Setelah itu minum, kemudian acara adat menyerahkan mahar werong berupa uang, hewan, disamping makan.

Tetapi sekarang, tradisi itu sepertinya banyak bergeser. Duduk saat acara adat, ada yang di tikar, ada yang di kursi, ada yang pakai kain, ada yang cuma pakai celana panjang.

" Yang saya omong ini baru sebagian kecilnya saja. Miris saya melihatnya. Di satu sisi  Mabar daerah pariwisata super premium, tapi sisi lain budayanya sudah luntur ," beber Blasius Janu.

Baca Juga: Ghaura Buka Boutique Cokelat di Labuan Bajo

Untuk itu, demikian Belasius Janu, Pemkab Manggarai Barat dan lembaga DPRD  harus membuat Perda Perlindungan Budaya atau apapun namanya demi melestarikan atau pertahankan budaya Manggarai Barat. Jangan lupa sejarah, jangan lupa tradisi warisan kuni agu kalo atau leluhur,"tegasnya.

Blasius Janu mendorong, masyarakat Manggarai Barar juga mesti melestarikan kembali budidaya menanam atau memelihara tanaman re'a (pandan) sebagai bahan baku loce (tikar pandan) dan topi re'a.

Selain itu, tanaman rea juga kaya manfaat. Antara lain sebagai sumber air, nilai ekologis. Re'a juga punya nilai ekonomi bagi masyarakat desa. Tikar dan topi re'a dijual untuk mendapatkan uang. Langsung tidak langsung juga berujung pada peningkatan Pendapat Asli Daerah (PAD).

Anggora DPRD Manggarai Barat, Anton Aron mendorong, serta mengawal Perda tentang kebudayaan di Kabupaten Manggarai Barat. Pasalnya,budaya saat ini tergerus oleh zaman dan terancam punah.

Ia menjelaskan, kebudayaan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan cipta, raasa, karsa, dan hasil karya masyarakat.Serta negara memajukan kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dan menjadikan kebudayaan sebagai investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa demi terwujudnya tujuan Nasional sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Baca Juga: Wujudkan Pasar Sehat, Gayetanus Dorong Pengelola Pasar Berinovasi

Ia mengakui, bahwa seni dan kebudayaan di Kabupaten Manggarai Barat saat ini sulit bertumbuh kembang, alias hanya jalan di tempat.Padahal seni dan kebudayaan di Manggarai Barat memiliki daya hidup yang sangat kuat.

Hal ini karena banyaknya persoalan yang muncul, baik dari bawah, maupun berkaitan dengan kebijakan-kebijakan Pemkab Manggarai Barat yang tidak berpihak kepada para pelaku seni.

Anton Aron menyampaikan, keberagaman budaya, terutama tradisional dari setiap suku di wilayah Manggarai Barat merupakan kekayan dan identitas daerah yang sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan Manggarai Barat tengah dinamika perkembangan dunia saat ini.

Kabupaten Manggarai Barat memiliki keberagaman budaya dan harus mendapat perlindungan serta dijaga kelestariannya.

Dia menyampaikan, Perda tentang kebudayaan di Kabupaten Manggarai Barat menjadi sangat penting, mengingat hingga saat ini pelestarian dan kemajuan seni dan kebudayaan di wilayah tersebut tidak memiliki payung hukum. Dengan adanya Perda tentang kebudayaan tersebut, maka hak-hak dan kewajiban budayawan bisa mendapatkan perlindungan.

Baca Juga: Warga Sukarela Perbaiki Jalan Rusak

Sebelumnya,Tahun 2018, mantan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch.Dula, berkali-kali meminta  masyarakat di seluruh Manggarai Barat untuk kembali membudidayakan tanaman re'a. Selain alasan budaya, juga alasan pariwisata, ekonomi dan sebagainya.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Siswa SDI Kerora Bebas Dari Ancaman Komodo

Rabu, 17 Agustus 2022 | 17:22 WIB

Pencegahan Stunting Harus Dilakukan Secara konvergen

Minggu, 7 Agustus 2022 | 13:08 WIB

Puluhan Sekolah Belum Terjangkau Jaringan Internet

Kamis, 4 Agustus 2022 | 12:44 WIB

Masyarakat Diminta Jangan Jadi Penonton

Kamis, 4 Agustus 2022 | 08:35 WIB

Nelayan Keluhkan Ketiadaan BBM

Rabu, 3 Agustus 2022 | 16:35 WIB

Paroki Datak Tanam Jagung 750 Hektar 

Rabu, 3 Agustus 2022 | 16:07 WIB

BPOM Kampanye Gunakan Komestik

Senin, 1 Agustus 2022 | 21:07 WIB

PPL Diminta Turun ke Lapangan

Selasa, 26 Juli 2022 | 20:19 WIB

Kader BKB Diminta Antisipasi Masalah Stunting

Senin, 25 Juli 2022 | 08:15 WIB

Warga Sukarela Perbaiki Jalan Rusak

Jumat, 15 Juli 2022 | 12:19 WIB
X