Komodo Dinilai Belum Menguntungkan Masyarakat Lokal

- Sabtu, 1 Oktober 2022 | 20:48 WIB
Pemukiman warga Pulau Komodo, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Manggarai Barat (victorynews.id/SATRIA)
Pemukiman warga Pulau Komodo, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) Manggarai Barat (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT-Belum lengkap rasanya jika berkunjung ke Labuan Bajo, Ibu Kota Kabupaten Manggarai Barat, NTT tanpa melihat langsung Komodo. Binatang langkah yang masuk dalam nominasi Tujuh Keajaiban Dunia itu paling banyak berada di Komodo">Pulau Komodo dan Pulau Rinca.

Pulau kecil di dalam kawasan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) juga memiliki binatang Komodo tetapi jumlahnya tidak banyak sehingga wisatawan lebih senang berkunjung di Komodo">Pulau Komodo dan Rinca.

Jika hendak ke Komodo">Pulau Komodo atau Rinca, wisatawan harus mengocek uang banyak. Pasalnya, wisatawan harus menyewa kapal wisata atau speedboat dengan biaya Rp 5 Juta sampai Rp 8 Juta untuk 1 hari.

Dari Labuan Bajo ke Komodo">Pulau Komodo, di tempuh perjalanan selama 3 Jam sedangkan dengan mengunakan speedboat hanya di tempuh 1,5 Jam saja. Di atas kapal wisatawan nantinya disajikan berbagai makanan dan minuman, wisatawan juga dapat menikmati panorama alam yang indah dengan spot-spot pantai yang indah di pulau-pulau kecil yang ada di dalam kawasan TNK.

Baca Juga: Pemkab Manggarai Barat Dorong Petani Gunakan Pupuk Organik

Selain panorama alam yang indah, wisatawan juga wajib menikmati alam bawa laut perairan Labuan Bajo.

Sebelum ke Komodo">Pulau Komodo, rata-rata kapal wisata atau speedboat menghantar wisatawan untuk ke Pulau Padar. Pulau Padar merupakan Pulau terbesar Ketiga yang ada di Kawasan TNK.

Di Pulau Padar, wisatawan di suguhkan keindahan panorama alam yang indah seperti surga yang tersembunyi dari atas puncak Pulau Padar. Setelah berfoto-foto diatas Pulau puncak Padar, kapal wisata menghantar wisatawan ke Komodo">Pulau Komodo.

Di Komodo">Pulau Komodo,fasilitas penunjang seperti dermaga sudah disediakan. Dermaga yang baru saja dibangun tahun lalu itu sangat bagus ketimbang sebelumnya di Komodo">Pulau Komodo masih mengunakan dermaga kayu seadannya. Sebelum ke tempat habitat Komodo, terlebih dahulu mata kita dimanjakan oleh patung komodo kecil, serta sofiner lainnya yang di jual oleh masyarakat local pulau Komodo.

Selain souvenir, dipintu gerbang menuju habitat Komodo di Komodo">Pulau Komodo pengujung juga dapat menikmati makanan kuliner yang dijual oleh masyarakat Komodo">Pulau Komodo. Namun, sayangnya tempat jualan makanan kuliner itu di Komodo">Pulau Komodo masih mengunakan tenda seadaanya yang didirikan oleh masyarakat Komodo itu sendiri.

Baca Juga: Pengacara Iren Surya Deklarasi Bakal Calon Bupati Manggarai Barat 2024

Masyarakat Pulau Messah, Ahyar Abadi, Sabtu (1/10/2022) mengatakan, dari seluruh masyarakat di Pulau Mesah hanya dirinya yang bergerak di bidang industri pariwisata. Sementara ,masyarakat lainnya masih menjadi nelayan.

Dirinya memilih berbisnis jasa kapal wisata setelah melihat banyak kapal wisata yang mulai berdatangan di Pulau yang ada di dalam kawasan TNK.

“Kapal wisata mayotiras dikuasi oleh pemodal besar dan orang asing. Mereka yang punya hotel berbintang di darat, mereka juga memiliki kapal wisata yang megah, mereka juga punya kantor dive, pengusaha besar juga memiliki kantor perjalan wisata. Sehingga, kami masyarakat local menilai industri pawisita di kawasan TNK dikuasi oleh pemodal besar dari Jakarta dan orang asing. Kami orang local hanya peluang yang kecil-kecil saja,’ kata Ahyar.

Baca Juga: Perumda Air Minum Wae Mbeliling Janji Layani Kebutuhan Air Bersih Masyarakat Pulau

Ahyar meminta, Pemerintah Kabupaten (Pemkab)  Manggarai Barat membuat aturan baru untuk menata industri pariwisata di Labuan Bajo. Hal itu bertujuan agar masyarakat local di beri kesempatan untuk mengambil peluang di bidang industri pariwisata.

"Kami merasa kapal wisata kecil sangat merasakan ada monopoli dan penguasaan bisnis pariwisata oleh pemodal besar. Oleh karena itu dibutuhkan ketegasan Pemkab Manggarai Barat untuk membuat aturan agar jangan ada monopoli bisnis di bidang pariwisata oleh pemodal besar dan orangt asing,’’ ujar Ahyar.

Baca Juga: Pengunjung Keluhkan Tarif Masuk Di Bandara Udara Komodo

Ahyar mengingikan, seluruh kapal wisata yang ingin masuk di Komodo">Pulau Komodo dan Rinca hanya sampai di pulau yang jaraknya dekat dengan Komodo">Pulau Komodo atau Rinca. Tujuanya, agar kapal-kapal kecil milik masyarakat Lokal yang akan menjemput wisatawan yang ada di Kapal itu untuk ke Komodo">Pulau Komodo atau Rinca.

Jika ada aturan seperti itu, maka perekonomian masyarakat didalam kawasan TNK membaik karena kapal-kapal kecil milik masyarakat lokal diberdayakan,’’ tuturnya.

Nurhayati Alwi, masyarakat asal dalam kawasan TNK yang selama ini bergelut di bidang usaha makanan oleh-oleh Labuan Bajo menuturkan, usahanya tidak sebaik yang diharapkannya. Awalnya usahanya menguntungkan, namun dalam perjalanan usahanya tidak lagi berjalan dengan baik dikarenakan tidak ada pasokan bahan baku lagi oleh masyarakat dalam kawasan TNK.

Baca Juga: Laut di Kawasan TNK Dipenuhi Sampah

“Saya usaha ikan kering yang diolah sehingga menjadi oleh-oleh wisatawan yang berkunjung di Labuan Bajo. Bisnis oleh-oleh khas Labuan Bajo itu sekarang tidak berjalan normal karena tidak ada pasokan bahan pokok oleh masyarakat yang ada di pulau-pulau dalam kawasan TNK,’’ kata Nur Alwi.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

UMKM dan BUMDes Didorong Bersinergi

Sabtu, 26 November 2022 | 16:21 WIB

BUMDes Didorong Kelola Homestay 

Selasa, 22 November 2022 | 06:33 WIB

Kelola Aset, Desa Didorong Bangun BUMDes

Selasa, 22 November 2022 | 05:45 WIB

Harga Bahan Pokok di Labuan Bajo Stabil

Minggu, 20 November 2022 | 14:54 WIB

BPOLBF Diminta Tidak Berorientasi Kepentingan Investor

Minggu, 20 November 2022 | 13:36 WIB

Pemdes Siru Sumbang Puluhan Kambing Untuk Warga

Senin, 14 November 2022 | 18:29 WIB

Kopi Flores Mejeng di Pameran Ekraf Exotic NTT

Sabtu, 5 November 2022 | 13:10 WIB
X