Warga Pulau Komodo Bertahan Dengan Menjual Asam

- Senin, 8 Agustus 2022 | 18:39 WIB
Pengrajin Patung Komodo di Pulau Komodo saat memahat Patung Komodo (victorynews.id/SATRIA)
Pengrajin Patung Komodo di Pulau Komodo saat memahat Patung Komodo (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT- Warga Komodo">Pulau Komodo, Desa Komodo, Kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) berapa bulan terakhir menjadikan asam sebagai komoditas andalan untuk dijual ke pasar di Labuan Bajo,ibukota Kabupaten Manggarai  Barat.

Warga di Komodo">Pulau Komodo dapat bertahan hidup dengan menjual buah asam, setelah sektor andalan pendulang rupiah mereka dari sektor pariwisata dan perikanan jatuh akibat Pandemi covid-19 sejak Maret 2020 lalu.

Warga Komodo">Pulau Komodo, Abu Bakar di Labuan Bajo,  Senin (8/8/2022) mengaku, sejak pandemi covid-19 menghantam Indonenesia Maret 2020 lalu  kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara  ke Komodo">Pulau Komodo dan sekitarnya menurun tajam, bahkan beberapa bulan sempat kosong kunjungan wisatawan.

Hal itu terjadi pasca pemerintah menutup semua destinasi wisata di tanah air, termasuk destinasi yang berada dalam kawasan TNK.

Baca Juga: Pensiunan ASN Usaha Ayam Bertelur

Ia mengatakan, sejak awal tahun 2022,kunjungan wisatawan sudah mulai ramai dan pemerintah membuka kembali destinasi TNK.

Namun kebijakan itu sepertinya belum bisa menolong sektor pariwisata Manggarai Barat terutama bagi warga di Komodo">Pulau Komodo. Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Komodo">Pulau Komodo sampai sekarang masih sangat minim.

Untuk mempertahankan hidup beberapa bulan terakhir ini, warga Komodo">Pulau Komodo hanya menjual buah asam matang. Yang masih berisi biji dipatok dengan harga sekitar Rp7.500 per kilo gram dan tanpa biji Rp35. 000/kg,"jelas Abu Bakar.

Ia mengatakan, selain menjual asam warga juga menjual siput laut atau oleh warga setempat dikenal dengan nama mata tujuh. Mata tujuh merupakan hasil laut yang menempel pada batu-batu atau karang dalam kawasan laut TNK.

Harga siput ini berkisar Rp 65 ribu/kg. Hasil jual buah asam maupun siput laut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti membeli beras dan berbagai kebutuhan hidup lainnya.

Baca Juga: Kehadiran KEK Tana Mori Diharapkan Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Masyarakat

Abu Bakar menambahkan, harga ikan di Komodo">Pulau Komodo jatuh tajam akibat sepi pembeli.Hasil tangkapan nelayan cukup menjanjikan, namun sayangnya,daya beli ikan masyarakat Labuan Bajo rendah.

“Hasil tangkapan nelayan Mabar cukup banyak. Sebagian besar penduduk Komodo bergerak di dunia pariwidata dan sisanya nelayan,” kata Abu Bakar.

Warga Pulau Rinca, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Komodo, Mustafa pada kesempatan yang sama menambahkan, selama pandemi Covid-19 tahun 2020 lalu, harga ikan di desanya sangat murah. Walau begitu, warga tetap ulet  menekuni usaha tersebut demi bertahan hidup.Ikan hasil tangkapan tetap di jual di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Labuan Bajo.

Ia mengaku, pekerjaan pokok masyarakat Pulau Rinca adalah nelayan.Ikan hasil tangkapan di jual murah.Sebagian nelayan sudah mulai menjual buah asam untuk kebutuhan rumah makan di Labuan Bajo.

Mustafa mengaku, pendapatan dari menjual asam cukup menjanjikan,warga Pulau Rinca memanfatkan perahu taksi untuk menjual asam di Labuan Bajo.Setiap warga mendapat keuntungan Rp 200 Ribu hingga Rp 300 Ribu dari menjual asam.Buah asam rata-rata langsung dihantar ke rumah makan yang berada  di Labuan Bajo.

Baca Juga: Pelajar SMK Negeri 1 Welak Belajar Tanam Hidroponik

Warga Pulau Rinca mulai menjual asam sejak Februari 2022 lalu.Asam di peroleh dari kebun milik masyarakat Pulau Rinca itu sendiri.Sebelum masa pandemi, warga Pulau Rinca kurang serius menekuni penjualan asam.Hal itu disebabkan warga Pulau Rinca fokus mengurus ikan dan usaha sektor pariwisata seperti menjual patung komodo.

Anggota DPRD Manggarai Barat, Ali Imran secara terpisah membenarkan keluhan warga Komodo">Pulau Komodo dan Pulau Rinca terkait rendahnya pendapatan berapa tahun terakhir.

"Yang mereka sampaikan itu betul. Malahan sekarang ada nelayan yang cari mata tuju sampai Gili Banta, tapal batas Manggarai Barat dan Bima-NTB. Laut kita sekarang diobrak abrik. Nelayan lakukan itu demi bertahan hidup di tengah sektor pariwisata sepi," katanya.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Pemkab Manggarai Barat Perlu Beri Ruang Ekonomi Lokal

Minggu, 2 Oktober 2022 | 17:32 WIB

Komodo Dinilai Belum Menguntungkan Masyarakat Lokal

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 20:48 WIB

Pembangunan Desa Wisata Harus Optimal

Sabtu, 1 Oktober 2022 | 14:37 WIB

Labuan Bajo Harus Bangun Sentra Kerajinan Khas

Jumat, 30 September 2022 | 15:52 WIB

Penenun Diminta Serius Jalani Usaha

Kamis, 29 September 2022 | 18:10 WIB

Masyarakat Desa Wisata Didorong Bangun Homestay

Rabu, 28 September 2022 | 13:37 WIB

Petani Keluhkan Harga Penjualan Komoditas

Selasa, 27 September 2022 | 21:47 WIB

Edi Endi Minta UMKM di Manggarai Barat Go Digital

Selasa, 27 September 2022 | 21:17 WIB

Kampung Coal Diminta Genjot Potensi Wisata

Senin, 26 September 2022 | 16:14 WIB

Pelaku UMKM Didorong Berkolaborasi

Sabtu, 24 September 2022 | 15:17 WIB

Pendapatan Warga Pulau Komodo Berkurang

Sabtu, 17 September 2022 | 19:18 WIB

Suzuki East Marine Buka Diler Di Labuan Bajo

Sabtu, 17 September 2022 | 18:10 WIB

Nelayan Keluhkan Kenaikan BBM

Rabu, 14 September 2022 | 14:45 WIB

Penumpang Ferry Dapat Beli Tiket Di Kantor Pos

Rabu, 14 September 2022 | 09:49 WIB
X