Petani Kopi Bebas dari Tengkulak

- Sabtu, 21 Mei 2022 | 12:23 WIB
Petani Desa Colol sedang memproduksi Kopi tuk di Desa Colol Kecamatan Lambaleda Timur (victorynews.id/SATRIA)
Petani Desa Colol sedang memproduksi Kopi tuk di Desa Colol Kecamatan Lambaleda Timur (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT- Petani Kopi di Desa Colol Kecamatan Lambaleda Timur,Kabupaten Manggarai Timur, NTT kini bebas dari tengkulak kopi.Hadirnya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Poco Nembu di Desa Colol membawa kabar gembira bagi petani.

BUMDes Poco Nembu membeli Kopi dengan harga yang menjanjikan.

Petani Kopi di Desa Colol,Stefanus Jon, Sabtu (21/5/2022) menuturkan, kopi satu-satunya komoditi pertanian sebagai sumber pendapatan masyarakat di Desa Colol. Petani di Desa Colol dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari dan membiaya pendidikan anak-anak dari hasil kopi.Namun,selama ini tengkulak membeli kopi dengan harga Rp 8.000-Rp 9.000 per liternya.

Ia mengaku, kopi milik petani colol,Kabupaten Manggarai Timur secara nasional sudah cukup terkenal.Kualitas kopi Colol di tanah air sudah mampu bersaing dengan kopi daerah lainnya di Indonesia.Tetapi,petani kopi dari Colol belum sejahtera karena harga kopi yang dibeli tengkulak sangat murah.

Ia menuturkan proses pengelolahan kopi sangat menyulitkan petani,topografi kebun kopi yang berada di bukit membuat petani harus bekerja ekstra hati-hati saat panen.Tengkulak yang berasal dari luar daerah Manggarai Timur datang ke rumah petani untuk membeli kopi.Harga kopi yang dibeli tengkulak sangat standar dan merugikan petani.

Baca Juga: Petani Kesulitan Ketersedian Air Sawah

Stefanus Jon, mengaku salah satu satu masalah utama yang dialami petani Kopi di Colol selama ini adalah harga kopi yang sangat murah.Dimana, selama ini tengkulak yang menentukan harga kopi sesuai keinginan.Alasan turunnya harga kopi oleh para tengkulak karena harga komodoti Kopi di Surabaya,Jawa Timur turun.

Ia menuturkan, kehadiran BUMDes Poco Nembu tahun 2018 mulai menjawab keluhan harga kopi. Kopi milik petani dibeli dengan harga yang diinginkan oleh petani, sehingga rata-rata kopi petani colol di beli BUMDes.

"Petani kopi di Colol mulai bebas dari tengkulak.Ada tanda-tanda petani sejahtera dengan kehadiran BUMDes Poco Nembu di Desa Colol,"tuturnya.

Petani Kopi di Desa Colol, Agustinus Suhardi menuturkan, petani kopi di Colol memiliki berbagai jenis kopi yakni Kopi arabika,juria,robusta dan yellow captura.Keempat jenis kopi itu selama ini dibeli tengkulak dari petani sangat murah.Petani menjual kopi kepada tengkulak lantaran tidak miliki akses kepada pembeli kopi.

Ia mengaku, 90 persen masyarakat Desa Colol adalah petani Kopi.Setiap Kepala Keluarga memiliki 1 hektare tanaman Kopi,baik Kopi Juria, Arabika,
Robusta dan Yelow Captura.Selain komoditi kopi,petani juga menanam cengkeh.
Tetapi,pengelolaan kopi satu-satunya aktifitas petani setiap hari.

Baca Juga: Obyek Wisata Cunca Rami Masih Sepi

Agustinus Suhardi mengaku, perhatian Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Bank NTT yang membantu memasarkan produk kopi dari colol sangat besar.Petani Kopi di Colol saat ini sudah tidak lagi menjual kopi kepada tengkulak,Kopi milik petani di beli BUMDes Poco Nembu dengan harga yang memuaskan petani.

Ia berharap, kopi dari petani colol laku terjual di pasar.Sehingga berdampak pada petani yakni harga kopi terus naik.

Tokoh Masyarakat Colol,Fransiskus Pantur menyampaikan, wilayah Colol memiliki banyak potensi yang sangat besar untuk dikembangkan,yakni potensi wisata alam.Dimana,Desa Colol memiliki bentang alam yang indah yang beisikan kebun kopi.

Ia mendorong Pemerintah daerah untuk menjadikan Desa Colol sebagai spot wisata. Wisatawan yang berkunjung ke Desa Colol dapat menikmati kopi Colol yang diproduksi oleh petani.Serta dapat menikmati alam yang indah,sejuk dan asri.

"Kita berharap Pemerintah daerah Manggarai Timur memperhatikan infrastruktur jalan ke Desa Colol.Wisatawan banyak yang ingin berkunjung ke Colol,tetapi terkendala jalan yang rusak," harap Frans Pantur.***

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

Warga Pulau Komodo Bertahan Dengan Menjual Asam

Senin, 8 Agustus 2022 | 18:39 WIB

Pensiunan ASN Usaha Ayam Bertelur

Senin, 8 Agustus 2022 | 11:27 WIB

Pelajar SMK Negeri 1 Welak Belajar Tanam Hidroponik

Senin, 8 Agustus 2022 | 10:21 WIB

BUMDes Kolarek Diapresiasi

Minggu, 7 Agustus 2022 | 09:38 WIB

Nasib TKBM di Labuan Bajo Tidak Terurus

Kamis, 4 Agustus 2022 | 10:02 WIB

Masyarakat Diminta Manfaatkan Sektor Pariwisata 

Rabu, 3 Agustus 2022 | 18:44 WIB

Harga Bawang Merah Terus Meningkat

Rabu, 3 Agustus 2022 | 18:26 WIB

Pasar Warloka Sebagai Pasar Barter Harus Dilestarikan

Selasa, 2 Agustus 2022 | 15:48 WIB

Labuan Bajo Perlu Tingkatkan Produksi Udang

Senin, 1 Agustus 2022 | 19:03 WIB

Golomory Luncur Kemasan Baru Kopi Asli Manggarai

Senin, 25 Juli 2022 | 16:25 WIB

Masyarakat Didorong Jadi Peternak Ayam Kampung

Selasa, 19 Juli 2022 | 15:03 WIB
X