Nelayan di Kecamatan Komodo Keluhkan Anjloknya Harga Ikan Saat Pandemi

- Kamis, 3 Maret 2022 | 08:33 WIB
TPI Kampung Ujung Labuan Bajo (victorynews.id/SATRIA)
TPI Kampung Ujung Labuan Bajo (victorynews.id/SATRIA)

VICTORY NEWS MANGGARAI BARAT- Sejumlah nelayan di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, mengeluhkan anjloknya harga ikan selama pandemi COVID-19. Anjloknya harga ikan terjadi lantaran jumlah ikan melimpah, sementara permintaan cenderung turun belakangan ini.

Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kampung Ujung Labuan Bajo mencatat, jumlah ikan yang dilelang mencapai 10-20 ton per hari. Pada kondisi normal,seluruh ikan yang ditangkap nelayan di Kecamatan Komodo diserap oleh industri pengelolaan ikan serta penjual ikan di Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat.

Baca Juga: Puluhan Hektar Sawah di Manggarai Barat Terendam Banjir

Nelayan Pulau Seraya Kecil, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo,Haji Santuo, Kamis (3/3/2022) menuturkan, dampak pandemi COVID-19 sejak tahun 2020 paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan yang turun drastis mencapai 100 persen.

Hal ini tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan saat melaut.

Ia nuturkan, harga ikan turun anjlok sejak pertengahan Maret 2021 lalu.Ikan Kecil dan Ikan mentah turun hingga 100 persen.

Anjloknya harga ikan lantaran hotel dan restaurant di Labuan Bajo selama masa pandemi corona tutup.Serta daya beli masyarakat saat ini angat rendah.

Baca Juga: Kasasi Ditolak MA, Andi Rizky Tetap di Vonis 4 Tahun Penjara

Santuo menjelaskan, penurunan harga ikan terjadi karena masa pandemi corona,sehingga terjadi penumpukan ikan hasil tangkapan nelayan Pulau Seraya Kecil di TPI Kampung Ujung Labuan Bajo hampir 100 persen dibanding kondisi normal sebelumnya.

"Harga ikan yang turun tajam hingga 100 persen, membuat pendapatan nelayan dan masyarakat Pulau Seraya Kecil menurun drastis.Ikan yang dijual di TPI Kampung Ujung Labuan Bajo turun dratis,"tutur Santuo.

Ia mengaku, harga ikan mentah sebelumnya Rp 40 Ribu per Kilo Gram (Kg),sejak pandemi corona harga ikan mentah turun menjadi 10 Ribu per Kg.

Keuntungan nelayan setiap hari sebelumnya berkisar Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu setiap hari. Saat ini pendapatan nelayan di Pulau Seraya Kecil berkisar Rp 30 Ribu setiap hari.

Baca Juga: Tak ada Perhatian Pemerintah, Petani Desa Tondong Belang Swadaya Bangun Saluran Irigasi

Pendapat turun lantaran biaya operasi kapal nelayan seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) sangat besar.

Nelayan di Pulau Seraya Besar, Desa Seraya Maranu, Abdul Rahman mengatakan biasanya menjual ikan kakap merah sebesar Rp 60 ribu/Kg. Sekarang ini turun hingga Rp 25-30 ribu/Kg.

Penurunan harga ikan terjadi sejak Maret 2021 lalu. Meskipun harganya murah dirinya tetap menjual ikan hasil tangkapannya itu di TPI Kampung Ujung Labuan Bajo.

Ia mengaku, saat situasi normal sebelumnya ikan hasil tangkapan nelayan langsung di hantar ke TPI Kampung Ujung Labuan Bajo. Kemudian dimasukkan ke dalam kendaraan Pick Up dan Motor kemudian dijual ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.

Selama ini, Ikan tidak sampai menumpuk di TPI Kampung Ujung Labuan Bajo.

Baca Juga: Sektor Pariwisata Jadi Andalan Kecamatan Kuwus di Masa Depan

“Sekarang ini sebagian pembeli sudah tidak ada.Kendaraan yang berjualan ikan idak bisa beraktifitas karena kebijakan karantina wilayah di Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur,"tutur Abdul Rahman.

Sementara, Kepala Desa Seraya Maranu,Sutirman mengatakan, hampir 90 persen masyarakat Desa Seraya Maranu adalah nelayan. Meskipun, harga ikan turun drastis,setiap hari para nelayan tetap beraktifitas menangkap ikan.

Ikan hasil tangkapan nelayan tidak lagi dijual mentah,namun diolah menjadi ikan kering.

Ia mengaku, pendapatan nelayan di desa Seraya Maranu turun draris. Biasanya pendapatan nelayan mencapai Rp 400 ribu per hari.

Saat ini pendapatan masyarakat setiap hari hanya mencapai Rp 100 Ribu. Ikan hasil tangkapan nelayan kurang laku di pasar.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Warga Sano Nggoang Menghadapi Jalan Rusak

"Masalah yang dihadapi nelayan saat ini adalah turunnya harga ikan.Bahkan ikan yang dijual tidak dibeli oleh masarakat di Labuan Bajo.Nelayan merubah cara mengelola ikan, nelayan kadang tidak menjual ikan, tetapi menjual ikan kering,"tutur Sutirman.

Menurut Sutirman, penghasilan nelayan di Pulau Seraya Besar,Desa Seraya Maranu sejak bulan tahun 2022 bisa dikatakan lebih parah daripada musim angin kencang.

Meskipun harga ikan turun nelayan di Desa Seraya Maranu tetap berangkat melaut, pasalnya, tidak ada pilihan pekerjaan lain.Serta untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak.***

Halaman:

Editor: Gerasimos Satria

Tags

Terkini

PLN Dukung Percepatan Konversi Kendaraan Listrik

Jumat, 24 Juni 2022 | 14:41 WIB

Festival Kopi Flores Bangkitkan UMKM Lokal

Jumat, 24 Juni 2022 | 11:17 WIB

Kesiapan BPOLBF Menuju Status BLU

Kamis, 23 Juni 2022 | 08:42 WIB

Harga Cabai Rawit di Labuan Bajo Meroket

Selasa, 21 Juni 2022 | 18:15 WIB

Pengrajin Kesulitan Pemasaran Patung Komodo

Senin, 20 Juni 2022 | 17:59 WIB

Pelaku UMKM Diminta Terus Produktif

Selasa, 7 Juni 2022 | 18:41 WIB

Hotel dan Restoran di Dorong Pakai Kopi Lokal

Sabtu, 28 Mei 2022 | 17:36 WIB

Petani Kopi Bebas dari Tengkulak

Sabtu, 21 Mei 2022 | 12:23 WIB

Pemdes Galang Perkuat UMKM Tenun

Jumat, 20 Mei 2022 | 15:49 WIB

Warga Bari Kesulitan Pasarkan Kelapa

Kamis, 5 Mei 2022 | 15:46 WIB

Harga Bawang Terus Melambung

Senin, 25 April 2022 | 20:47 WIB

Harga Pangan Stabil

Jumat, 22 April 2022 | 13:56 WIB
X